Kamis, 28 November 2013

Ingatlah Kejelekannya agar Kau Melupakannya

Kala ku terdiam, meratapi semua kekesalan dan kesedihan ku, Kau datang. Senyum dan tawa yang Kau bawa menyiratkan tada tanya di hati ku. Begitu mudahkah Kau melupakan apa yang telah terjadi kemarin? Rasanya hanya diriku yang meratapi rasa ini. Apakah kau tak merasa sedih? Kemarin, kisah kita baru saja berakhir. Apa memang hanya aku yang merasakan kesedihan itu, apakah benar-benar hanya aku? Begitu bodohkah aku, sehingga aku tak menyadari bahwa rasa yang kau berikan hanya semu. Rasa yang kau berikan hanyalah imajinasiku semata. Tak taukah kau? Hatiku lebih sakit, ketika ku melihat kau telah bersama orang lain. Tunggu dulu, bukankah perempuan itu yang pernah kau katakan sebagai saudaramu ketika aku datang ke rumahmu dengan tiba-tiba. Akupun teringat, saat aku datang kau terlihat kaget. Kau dengan cepat mengatakan perempuan itu adalah saudaramu. Aku langsung mempercayaimu. Tak sedikitpun aku menaruh curiga padamu. Begitu bodohkah aku, hingga tak menyadari kebohonganmu. Lalu, aku ingat pula ketika kau tiba-tiba meninggalkan aku. Kau berkata saudaramu yang kemarin sedang mengalami kesulitan. Aku langsung memberimu ijin. Tanpa berpikir bahwa perempuan itu bukanlah saudaramu. Begitu bodohkah aku, sehingga ku langsung memberimu ijin tanpa berpikir kau telah membodohiku. Ketika ku sadari, kesenangan yang kau berikan tak sebanyak kesedihan dan luka yang kau torehkan. Begitu Bodohkah aku, sehingga aku tak menyadarinya. Kini ku sadar, Kau hanyalah debu yang mengotori pikiranku. Aku tersadar dan berkata pada diriku sendiri, mengapa tak dari dulu saja Aku membersihkan debu ini dari hatiku? Aku hanya dapat tersenyum mengingat itu semua. Jika Kau berfikir untuk kembali padaku, jangan harap ku akan menerimamu.