Jumat, 25 April 2014

Titik Terang Ditengah Kegelapan



Hujan terus saja turun tanpa henti. Matanya yang bulat tak henti-hentinya memandangi arah gerbang. Orang yang sedari tadi ia tunggu tak datang-datang. Kekhawatiran yang awalnya tak ada di dalam benaknyapun muncul. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Semua teman yang awalnya menemani dirinya pun mulai pulang satu persatu. Ingin rasanya ia menghubungi orang itu. Namun, apa boleh dikata, handphonenya mati karena kehabisan batrai. Ia melihat kembali jam tangannya, pukul lima lebih tigapuluh menit. Ia menghela napas. Perlahan ia berjalan meninggalkan tempatnya. Rintik hujan menemaninya hingga ia sampai di gerbang sekolah. Ia berharap orang yang ia tunggu sedari tadi telah datang. Akan tetapi, harapannya sia-sia. Ia menghampiri pos satpam. Ia ermaksud meminjam handphone milik Pak Karta, satpam yang berjaga saat itu.
“Pak Karta,” panggilnya, “Boleh saya meminjam handphone Bapak?” tanyanya.
“Boleh Non, tapi maaf ya handphone Bapak jelek,” jawab Pak Karta.
“Gak, papa Pak. Saya cuman mau pinjam buat telpon kok, bolehkan Pak?” tanyanya lagi.
“Iya, gakpapa Non,” jawab Pak Karta memberikan handphone miliknya.
Ia segera menekan duabelas digit nomor. Telpon itu segera tersambung.
“Assalamualaikum. Hallo, Ayah! Ayah ada dimana?” tanyanya.
“Ayah masih dikantor, kamu ada perlu apa telpon Ayah?” tanya Ayahnya balik.
“Aku belum dijemput, Yah,” jawabnya mengungkapkan kekesalannya.
“Loh, bukannya abangmu yang mau jemput?” tanya Ayahnya lagi, terdengar kekhawatiran di suara Ayahnya.
“Iya, tapi belum dateng-dateng dari tadi,” jawabnya.
“Kamu tunggu sebentar lagi saja, ya? Nanti Ayah telponkan abangmu,” ucap Ayah menenangkan.
“Baik Yah,” ucapnya, terdengar nada ketidakpuasan pada suaranya.
“Waalaikumsallam.”
Ia segera menyerahkan handphone itu ke Pak Karta. Ia segera mengucapkan terima kasih. Orang yang ia tunggu dari tadi adalah abangnya sendiri. Ia meminta izin Pak Karta untuk menunggu abangnya di pos satpam. Ia tak mengerti apa yang dipikirkan abangnya saat ini. Apa mungkin abangnya lupa untuk menjemputnya? Atau abangnya sedang ada acara di kampusnya? Pertanyaan-pertanyaan tak jelas muncul dipikirannya. Ia berharap, Ayahnya berhasil menghubungi abangnya.
Ia tak lagi memandangi jalan, ia sibuk dengan pikirannya yang kusut. Ia tak menyadari kedatangan sebuah mobil sedan yang berhenti di depan sekolahnya. Turun seorang laki-laki yang terlihat tergesa-gesa. Laki-laki itu segera menyebrangi jalan dan menuju ke pos satpam. Wajahnya memperlihatkan penyesalannya, matanya yang cokelat terlihat mencari-cari. Laki-laki itu segera melongok ke dalam pos satpam.
“Ranti,” panggil laki-laki itu.
Meras namanya dipanggil ia pun menoleh ke arah orang yang memanggilnya. Ranti, nama perempuan itu, terlihat lega. Ia segera berdiri dan menghampiri laki-laki itu. Laki-laki itu adalah abangnya.
“Lama benget, bang?” tanya Ranti to the point.
sorry, tadi dosen abang ngasih tugas yang harus langsung diselesein,” abangnya menjelaskan.
Ranti menggangguk mengerti keadaan abanynya, ia memakluminya. Ia pamit pada Pak Karta. Ia dan abangnya pun segera meninggalkan pos satpam menuju ke mobil. Hujan sudah berhenti turun.
Keterlambatan abangya tak hanya terjadi satu kali saja. Dimusim hujan yang semakin parah ini abangnya semakin sering telat menjemputnya. Ranti berusaha memaklumi, dengan berpikir mungkin abangya terkena macet. Namun, kenyataan yang terjadi tak seperti pikirannya.
Dua hari yang lalu, tepatnya hari minggu. Ranti yang sedang ke toko buku bersama kawan-kawannya tak sengaja melihat abangnya bersama seorang perempuan. Padahal siang itu, ketika Ranti meminta abangnya untuk mengantarnya, abangnya menolak karena harus ke kampus untuk mengerjakan tugas dengan teman-temannya. Ranti tak merasa curiga, ia berpikiran bahwa abangnya telah selesai mengerjakan tugas dengan teman-temannya. Sekali itu, Ranti tak menaruh curiga sama sekali.
Tak seperti biasanya, hari ini sangat cerah. Sepulang sekolah, Ranti berencana mengajak abangnya untuk membeli sebuket bunga mawar untuk bundanya. Hari ini merupakan hari ulangtahun bunda. Ranti, abangnya, dan ayah sudah berbagi tugas. Ia dan abangnya membeli bunga sedangkan ayahnya membeli kue ulang tahun. Ranti segera menghubungi abangnya.
“Assalamualaikum, abang ada dimana?” tanyanya.
“Abang masih di kampus dek, kamu udah pulang?” tanya abangnya balik.
“Iya, abang jadi nemenin aku beli bungakan?” tanyanya lagi.
“Duh, maaf dek. Abang harus rapat untuk KKL, jadi abang gak bisa nganter kamu,” jawab abangnya meminta maaf.
“Yaudah deh, aku beli sendiri aja,” ucapnya terdengar kecewa.
Ranti mulai merasa aneh dengan sikap abangnya. Akhir-akhir ini abangnya banyak alasan menolak permintaannya. Sejujurnya Ranti tak ingin salah sangka pada abangnya. Namun, kejadian minggu kemarin membuatnya sadar, bahwa selama ini ia terlalu menutup mata atas sikap abangnya yang terkesan menutupi sesuatu. Adaikan abangnya mau jujur  kepadanya. Ranti segera menyetop angkot yang akan membawanya ke pasar bunga di dekat sekolahnya.
Malamnya ayah datang tepat sebelum bunda pulang dari rumah bu RT. Ayah membeli kue kesukaan bunda. Ranti pun menunjukkan bunga yang ia beli di pasar tadi. Ayah melihat bunga itu dengan perasaan puas. Ayah pun menaruh sebuah kartu ucapan di dalam buket bunga tersebut. Ranti dan ayahnya menanti kedatangan bunda. Terdengar suara gemeresik daun dari luar rumah, Ranti dan ayahnya segera mematikan lampu dan bersembunyi. Namun, yang datang bukanlah bunda tetapi abang yang terlihat tergesa-gesa tanpa menyadari ayah dan Ranti yang sedang bersembunyi. Beberapa saat kemudian, bunda datang tanpa menaruh kecurigaan. Ayah dan Ranti segera memberi kejutan untuk bunda. Bunda kaget tapi juga sangat senang dengan kejutan untuknya. Mata bunda terlihat sedang mencari-cari sesuatu.
“Abang mana yah?” tanya bunda ke ayah.
“Ada di kamarnya, udah kita makan kue dulu yuk,” ajak ayah menuju meja makan.
“Ranti, tolonong panggilkan abangmu,” ucap bunda menyuruh Ranti.
Ranti mengangguk. Ia segera naik kelantai atas untuk memanggil abangnya. Saat Ranti berada di depan kamar abangnya, terdengar suara mengerang kesakitan. Ranti yang kaget dan khawatir segera membuka pintu abangnya. Namun, pintu itu dikunci. Ranti menggedor pintu abangnya tapi tak ada jawaban. Ranti segera melongok ke ruang makan. Terlihat wajah ayah dan bunda yang khawatir, mereka segera menyusul Ranti ke lantai atas. Ketika mereka sampai di depan kamar anak laki-laki mereka, terdengar lagi suara erangan, kali ini semakin keras. Ayah yang mendengar suara erangan itu segera menyuruh Ranti bergeser dan mendobrak pintu itu. Dengan badan ayah yang tinggi besar pintu itu langsung terbuka. Ranti melihat sebuah jarum suntik tertancap di lengan abangnya. Bunda langsung menangis dan memeluk abangnya yang terlihat kuyu. Meliahat keadaan anak laki-lakinya yang mengenaskan, ayah segera menghubungi ambulan untuk membawa anaknya ke rumah sakit.
Seminggu sudah abangnya dirawat di rumah sakit. Secara bergantian ayah, bunda, dan Ranti menjaga abangnya. Keadaan abngnya sudah mulai pulih. Dua hari lagi abngnya akan keluar dari rumah sakit. Setelah itu, abangnya akan dibawa ke tempah rehabilitasi. Keluarga Ranti bersyukur karena abangnya belum terlalu jauh tenggelam dalam pengaruh narkotika itu. Ternyata setelah diusut siapa yang mempengaruhi abangnya, pacar abangnyalah yang mempengaruhinnya untuk menggunakan narkoba. Alasannya untuk menghilangkan stres. Abangnya yang memiliki sifat mudah percayapun terpengaruh bujukan pacarnya itu.
Lima bulan sudah abangnya tinggal di tempat rehabilitasi. Keadaan abangnya semakin membaik. Badannya mulai kembali berisi. Ranti yang selalu melihat perkembangan abangnyapun mempunyai ide untuk melakukan kampanye anti narkoba. Kegemarannya menulispun ia manfaatkan untuk menyampaikan kamapanye anti narkobanya. Blog yang ia kelolapun menjadi ramai. Ia pun diminta oleh sekolahnya untuk menjadi wakil dalam lomba menulis karangan yang diadakan di kotanya. Pengalaman inipun menjadi pelajaran yang sangat berarti di keluarga dan teman-temannya.