Hujan terus saja turun tanpa
henti. Matanya yang bulat tak henti-hentinya memandangi arah gerbang. Orang
yang sedari tadi ia tunggu tak datang-datang. Kekhawatiran yang awalnya tak ada
di dalam benaknyapun muncul. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Semua
teman yang awalnya menemani dirinya pun mulai pulang satu persatu. Ingin
rasanya ia menghubungi orang itu. Namun, apa boleh dikata, handphonenya mati
karena kehabisan batrai. Ia melihat kembali jam tangannya, pukul lima lebih
tigapuluh menit. Ia menghela napas. Perlahan ia berjalan meninggalkan
tempatnya. Rintik hujan menemaninya hingga ia sampai di gerbang sekolah. Ia
berharap orang yang ia tunggu sedari tadi telah datang. Akan tetapi, harapannya
sia-sia. Ia menghampiri pos satpam. Ia ermaksud meminjam handphone milik Pak
Karta, satpam yang berjaga saat itu.
“Pak Karta,” panggilnya, “Boleh
saya meminjam handphone Bapak?” tanyanya.
“Boleh Non, tapi maaf ya
handphone Bapak jelek,” jawab Pak Karta.
“Gak, papa Pak. Saya cuman mau
pinjam buat telpon kok, bolehkan Pak?” tanyanya lagi.
“Iya, gakpapa Non,” jawab Pak
Karta memberikan handphone miliknya.
Ia segera menekan duabelas digit
nomor. Telpon itu segera tersambung.
“Assalamualaikum. Hallo, Ayah!
Ayah ada dimana?” tanyanya.
“Ayah masih dikantor, kamu ada
perlu apa telpon Ayah?” tanya Ayahnya balik.
“Aku belum dijemput, Yah,”
jawabnya mengungkapkan kekesalannya.
“Loh, bukannya abangmu yang mau
jemput?” tanya Ayahnya lagi, terdengar kekhawatiran di suara Ayahnya.
“Iya, tapi belum dateng-dateng
dari tadi,” jawabnya.
“Kamu tunggu sebentar lagi saja,
ya? Nanti Ayah telponkan abangmu,” ucap Ayah menenangkan.
“Baik Yah,” ucapnya, terdengar
nada ketidakpuasan pada suaranya.
“Waalaikumsallam.”
Ia segera menyerahkan handphone
itu ke Pak Karta. Ia segera mengucapkan terima kasih. Orang yang ia tunggu dari
tadi adalah abangnya sendiri. Ia meminta izin Pak Karta untuk menunggu abangnya
di pos satpam. Ia tak mengerti apa yang dipikirkan abangnya saat ini. Apa
mungkin abangnya lupa untuk menjemputnya? Atau abangnya sedang ada acara di
kampusnya? Pertanyaan-pertanyaan tak jelas muncul dipikirannya. Ia berharap,
Ayahnya berhasil menghubungi abangnya.
Ia tak lagi memandangi jalan, ia
sibuk dengan pikirannya yang kusut. Ia tak menyadari kedatangan sebuah mobil
sedan yang berhenti di depan sekolahnya. Turun seorang laki-laki yang terlihat
tergesa-gesa. Laki-laki itu segera menyebrangi jalan dan menuju ke pos satpam.
Wajahnya memperlihatkan penyesalannya, matanya yang cokelat terlihat
mencari-cari. Laki-laki itu segera melongok ke dalam pos satpam.
“Ranti,” panggil laki-laki itu.
Meras namanya dipanggil ia pun
menoleh ke arah orang yang memanggilnya. Ranti, nama perempuan itu, terlihat
lega. Ia segera berdiri dan menghampiri laki-laki itu. Laki-laki itu adalah
abangnya.
“Lama benget, bang?” tanya Ranti to the point.
“sorry, tadi dosen abang ngasih tugas yang harus langsung
diselesein,” abangnya menjelaskan.
Ranti menggangguk mengerti
keadaan abanynya, ia memakluminya. Ia pamit pada Pak Karta. Ia dan abangnya pun
segera meninggalkan pos satpam menuju ke mobil. Hujan sudah berhenti turun.
Keterlambatan abangya tak hanya
terjadi satu kali saja. Dimusim hujan yang semakin parah ini abangnya semakin
sering telat menjemputnya. Ranti berusaha memaklumi, dengan berpikir mungkin
abangya terkena macet. Namun, kenyataan yang terjadi tak seperti pikirannya.
Dua hari yang lalu, tepatnya hari
minggu. Ranti yang sedang ke toko buku bersama kawan-kawannya tak sengaja
melihat abangnya bersama seorang perempuan. Padahal siang itu, ketika Ranti
meminta abangnya untuk mengantarnya, abangnya menolak karena harus ke kampus
untuk mengerjakan tugas dengan teman-temannya. Ranti tak merasa curiga, ia
berpikiran bahwa abangnya telah selesai mengerjakan tugas dengan
teman-temannya. Sekali itu, Ranti tak menaruh curiga sama sekali.
Tak seperti biasanya, hari ini
sangat cerah. Sepulang sekolah, Ranti berencana mengajak abangnya untuk membeli
sebuket bunga mawar untuk bundanya. Hari ini merupakan hari ulangtahun bunda.
Ranti, abangnya, dan ayah sudah berbagi tugas. Ia dan abangnya membeli bunga
sedangkan ayahnya membeli kue ulang tahun. Ranti segera menghubungi abangnya.
“Assalamualaikum, abang ada
dimana?” tanyanya.
“Abang masih di kampus dek, kamu
udah pulang?” tanya abangnya balik.
“Iya, abang jadi nemenin aku beli
bungakan?” tanyanya lagi.
“Duh, maaf dek. Abang harus rapat
untuk KKL, jadi abang gak bisa nganter kamu,” jawab abangnya meminta maaf.
“Yaudah deh, aku beli sendiri
aja,” ucapnya terdengar kecewa.
Ranti mulai merasa aneh dengan
sikap abangnya. Akhir-akhir ini abangnya banyak alasan menolak permintaannya.
Sejujurnya Ranti tak ingin salah sangka pada abangnya. Namun, kejadian minggu
kemarin membuatnya sadar, bahwa selama ini ia terlalu menutup mata atas sikap
abangnya yang terkesan menutupi sesuatu. Adaikan abangnya mau jujur kepadanya. Ranti segera menyetop angkot yang
akan membawanya ke pasar bunga di dekat sekolahnya.
Malamnya ayah datang tepat
sebelum bunda pulang dari rumah bu RT. Ayah membeli kue kesukaan bunda. Ranti
pun menunjukkan bunga yang ia beli di pasar tadi. Ayah melihat bunga itu dengan
perasaan puas. Ayah pun menaruh sebuah kartu ucapan di dalam buket bunga
tersebut. Ranti dan ayahnya menanti kedatangan bunda. Terdengar suara gemeresik
daun dari luar rumah, Ranti dan ayahnya segera mematikan lampu dan bersembunyi.
Namun, yang datang bukanlah bunda tetapi abang yang terlihat tergesa-gesa tanpa
menyadari ayah dan Ranti yang sedang bersembunyi. Beberapa saat kemudian, bunda
datang tanpa menaruh kecurigaan. Ayah dan Ranti segera memberi kejutan untuk
bunda. Bunda kaget tapi juga sangat senang dengan kejutan untuknya. Mata bunda
terlihat sedang mencari-cari sesuatu.
“Abang mana yah?” tanya bunda ke
ayah.
“Ada di kamarnya, udah kita makan
kue dulu yuk,” ajak ayah menuju meja makan.
“Ranti, tolonong panggilkan
abangmu,” ucap bunda menyuruh Ranti.
Ranti mengangguk. Ia segera naik
kelantai atas untuk memanggil abangnya. Saat Ranti berada di depan kamar abangnya,
terdengar suara mengerang kesakitan. Ranti yang kaget dan khawatir segera
membuka pintu abangnya. Namun, pintu itu dikunci. Ranti menggedor pintu
abangnya tapi tak ada jawaban. Ranti segera melongok ke ruang makan. Terlihat wajah
ayah dan bunda yang khawatir, mereka segera menyusul Ranti ke lantai atas. Ketika
mereka sampai di depan kamar anak laki-laki mereka, terdengar lagi suara
erangan, kali ini semakin keras. Ayah yang mendengar suara erangan itu segera
menyuruh Ranti bergeser dan mendobrak pintu itu. Dengan badan ayah yang tinggi
besar pintu itu langsung terbuka. Ranti melihat sebuah jarum suntik tertancap
di lengan abangnya. Bunda langsung menangis dan memeluk abangnya yang terlihat
kuyu. Meliahat keadaan anak laki-lakinya yang mengenaskan, ayah segera
menghubungi ambulan untuk membawa anaknya ke rumah sakit.
Seminggu sudah abangnya dirawat
di rumah sakit. Secara bergantian ayah, bunda, dan Ranti menjaga abangnya. Keadaan
abngnya sudah mulai pulih. Dua hari lagi abngnya akan keluar dari rumah sakit. Setelah
itu, abangnya akan dibawa ke tempah rehabilitasi. Keluarga Ranti bersyukur
karena abangnya belum terlalu jauh tenggelam dalam pengaruh narkotika itu. Ternyata
setelah diusut siapa yang mempengaruhi abangnya, pacar abangnyalah yang
mempengaruhinnya untuk menggunakan narkoba. Alasannya untuk menghilangkan
stres. Abangnya yang memiliki sifat mudah percayapun terpengaruh bujukan
pacarnya itu.
Lima bulan sudah abangnya tinggal
di tempat rehabilitasi. Keadaan abangnya semakin membaik. Badannya mulai
kembali berisi. Ranti yang selalu melihat perkembangan abangnyapun mempunyai
ide untuk melakukan kampanye anti narkoba. Kegemarannya menulispun ia
manfaatkan untuk menyampaikan kamapanye anti narkobanya. Blog yang ia kelolapun
menjadi ramai. Ia pun diminta oleh sekolahnya untuk menjadi wakil dalam lomba
menulis karangan yang diadakan di kotanya. Pengalaman inipun menjadi pelajaran
yang sangat berarti di keluarga dan teman-temannya.