Jumat, 25 April 2014

Titik Terang Ditengah Kegelapan



Hujan terus saja turun tanpa henti. Matanya yang bulat tak henti-hentinya memandangi arah gerbang. Orang yang sedari tadi ia tunggu tak datang-datang. Kekhawatiran yang awalnya tak ada di dalam benaknyapun muncul. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Semua teman yang awalnya menemani dirinya pun mulai pulang satu persatu. Ingin rasanya ia menghubungi orang itu. Namun, apa boleh dikata, handphonenya mati karena kehabisan batrai. Ia melihat kembali jam tangannya, pukul lima lebih tigapuluh menit. Ia menghela napas. Perlahan ia berjalan meninggalkan tempatnya. Rintik hujan menemaninya hingga ia sampai di gerbang sekolah. Ia berharap orang yang ia tunggu sedari tadi telah datang. Akan tetapi, harapannya sia-sia. Ia menghampiri pos satpam. Ia ermaksud meminjam handphone milik Pak Karta, satpam yang berjaga saat itu.
“Pak Karta,” panggilnya, “Boleh saya meminjam handphone Bapak?” tanyanya.
“Boleh Non, tapi maaf ya handphone Bapak jelek,” jawab Pak Karta.
“Gak, papa Pak. Saya cuman mau pinjam buat telpon kok, bolehkan Pak?” tanyanya lagi.
“Iya, gakpapa Non,” jawab Pak Karta memberikan handphone miliknya.
Ia segera menekan duabelas digit nomor. Telpon itu segera tersambung.
“Assalamualaikum. Hallo, Ayah! Ayah ada dimana?” tanyanya.
“Ayah masih dikantor, kamu ada perlu apa telpon Ayah?” tanya Ayahnya balik.
“Aku belum dijemput, Yah,” jawabnya mengungkapkan kekesalannya.
“Loh, bukannya abangmu yang mau jemput?” tanya Ayahnya lagi, terdengar kekhawatiran di suara Ayahnya.
“Iya, tapi belum dateng-dateng dari tadi,” jawabnya.
“Kamu tunggu sebentar lagi saja, ya? Nanti Ayah telponkan abangmu,” ucap Ayah menenangkan.
“Baik Yah,” ucapnya, terdengar nada ketidakpuasan pada suaranya.
“Waalaikumsallam.”
Ia segera menyerahkan handphone itu ke Pak Karta. Ia segera mengucapkan terima kasih. Orang yang ia tunggu dari tadi adalah abangnya sendiri. Ia meminta izin Pak Karta untuk menunggu abangnya di pos satpam. Ia tak mengerti apa yang dipikirkan abangnya saat ini. Apa mungkin abangnya lupa untuk menjemputnya? Atau abangnya sedang ada acara di kampusnya? Pertanyaan-pertanyaan tak jelas muncul dipikirannya. Ia berharap, Ayahnya berhasil menghubungi abangnya.
Ia tak lagi memandangi jalan, ia sibuk dengan pikirannya yang kusut. Ia tak menyadari kedatangan sebuah mobil sedan yang berhenti di depan sekolahnya. Turun seorang laki-laki yang terlihat tergesa-gesa. Laki-laki itu segera menyebrangi jalan dan menuju ke pos satpam. Wajahnya memperlihatkan penyesalannya, matanya yang cokelat terlihat mencari-cari. Laki-laki itu segera melongok ke dalam pos satpam.
“Ranti,” panggil laki-laki itu.
Meras namanya dipanggil ia pun menoleh ke arah orang yang memanggilnya. Ranti, nama perempuan itu, terlihat lega. Ia segera berdiri dan menghampiri laki-laki itu. Laki-laki itu adalah abangnya.
“Lama benget, bang?” tanya Ranti to the point.
sorry, tadi dosen abang ngasih tugas yang harus langsung diselesein,” abangnya menjelaskan.
Ranti menggangguk mengerti keadaan abanynya, ia memakluminya. Ia pamit pada Pak Karta. Ia dan abangnya pun segera meninggalkan pos satpam menuju ke mobil. Hujan sudah berhenti turun.
Keterlambatan abangya tak hanya terjadi satu kali saja. Dimusim hujan yang semakin parah ini abangnya semakin sering telat menjemputnya. Ranti berusaha memaklumi, dengan berpikir mungkin abangya terkena macet. Namun, kenyataan yang terjadi tak seperti pikirannya.
Dua hari yang lalu, tepatnya hari minggu. Ranti yang sedang ke toko buku bersama kawan-kawannya tak sengaja melihat abangnya bersama seorang perempuan. Padahal siang itu, ketika Ranti meminta abangnya untuk mengantarnya, abangnya menolak karena harus ke kampus untuk mengerjakan tugas dengan teman-temannya. Ranti tak merasa curiga, ia berpikiran bahwa abangnya telah selesai mengerjakan tugas dengan teman-temannya. Sekali itu, Ranti tak menaruh curiga sama sekali.
Tak seperti biasanya, hari ini sangat cerah. Sepulang sekolah, Ranti berencana mengajak abangnya untuk membeli sebuket bunga mawar untuk bundanya. Hari ini merupakan hari ulangtahun bunda. Ranti, abangnya, dan ayah sudah berbagi tugas. Ia dan abangnya membeli bunga sedangkan ayahnya membeli kue ulang tahun. Ranti segera menghubungi abangnya.
“Assalamualaikum, abang ada dimana?” tanyanya.
“Abang masih di kampus dek, kamu udah pulang?” tanya abangnya balik.
“Iya, abang jadi nemenin aku beli bungakan?” tanyanya lagi.
“Duh, maaf dek. Abang harus rapat untuk KKL, jadi abang gak bisa nganter kamu,” jawab abangnya meminta maaf.
“Yaudah deh, aku beli sendiri aja,” ucapnya terdengar kecewa.
Ranti mulai merasa aneh dengan sikap abangnya. Akhir-akhir ini abangnya banyak alasan menolak permintaannya. Sejujurnya Ranti tak ingin salah sangka pada abangnya. Namun, kejadian minggu kemarin membuatnya sadar, bahwa selama ini ia terlalu menutup mata atas sikap abangnya yang terkesan menutupi sesuatu. Adaikan abangnya mau jujur  kepadanya. Ranti segera menyetop angkot yang akan membawanya ke pasar bunga di dekat sekolahnya.
Malamnya ayah datang tepat sebelum bunda pulang dari rumah bu RT. Ayah membeli kue kesukaan bunda. Ranti pun menunjukkan bunga yang ia beli di pasar tadi. Ayah melihat bunga itu dengan perasaan puas. Ayah pun menaruh sebuah kartu ucapan di dalam buket bunga tersebut. Ranti dan ayahnya menanti kedatangan bunda. Terdengar suara gemeresik daun dari luar rumah, Ranti dan ayahnya segera mematikan lampu dan bersembunyi. Namun, yang datang bukanlah bunda tetapi abang yang terlihat tergesa-gesa tanpa menyadari ayah dan Ranti yang sedang bersembunyi. Beberapa saat kemudian, bunda datang tanpa menaruh kecurigaan. Ayah dan Ranti segera memberi kejutan untuk bunda. Bunda kaget tapi juga sangat senang dengan kejutan untuknya. Mata bunda terlihat sedang mencari-cari sesuatu.
“Abang mana yah?” tanya bunda ke ayah.
“Ada di kamarnya, udah kita makan kue dulu yuk,” ajak ayah menuju meja makan.
“Ranti, tolonong panggilkan abangmu,” ucap bunda menyuruh Ranti.
Ranti mengangguk. Ia segera naik kelantai atas untuk memanggil abangnya. Saat Ranti berada di depan kamar abangnya, terdengar suara mengerang kesakitan. Ranti yang kaget dan khawatir segera membuka pintu abangnya. Namun, pintu itu dikunci. Ranti menggedor pintu abangnya tapi tak ada jawaban. Ranti segera melongok ke ruang makan. Terlihat wajah ayah dan bunda yang khawatir, mereka segera menyusul Ranti ke lantai atas. Ketika mereka sampai di depan kamar anak laki-laki mereka, terdengar lagi suara erangan, kali ini semakin keras. Ayah yang mendengar suara erangan itu segera menyuruh Ranti bergeser dan mendobrak pintu itu. Dengan badan ayah yang tinggi besar pintu itu langsung terbuka. Ranti melihat sebuah jarum suntik tertancap di lengan abangnya. Bunda langsung menangis dan memeluk abangnya yang terlihat kuyu. Meliahat keadaan anak laki-lakinya yang mengenaskan, ayah segera menghubungi ambulan untuk membawa anaknya ke rumah sakit.
Seminggu sudah abangnya dirawat di rumah sakit. Secara bergantian ayah, bunda, dan Ranti menjaga abangnya. Keadaan abngnya sudah mulai pulih. Dua hari lagi abngnya akan keluar dari rumah sakit. Setelah itu, abangnya akan dibawa ke tempah rehabilitasi. Keluarga Ranti bersyukur karena abangnya belum terlalu jauh tenggelam dalam pengaruh narkotika itu. Ternyata setelah diusut siapa yang mempengaruhi abangnya, pacar abangnyalah yang mempengaruhinnya untuk menggunakan narkoba. Alasannya untuk menghilangkan stres. Abangnya yang memiliki sifat mudah percayapun terpengaruh bujukan pacarnya itu.
Lima bulan sudah abangnya tinggal di tempat rehabilitasi. Keadaan abangnya semakin membaik. Badannya mulai kembali berisi. Ranti yang selalu melihat perkembangan abangnyapun mempunyai ide untuk melakukan kampanye anti narkoba. Kegemarannya menulispun ia manfaatkan untuk menyampaikan kamapanye anti narkobanya. Blog yang ia kelolapun menjadi ramai. Ia pun diminta oleh sekolahnya untuk menjadi wakil dalam lomba menulis karangan yang diadakan di kotanya. Pengalaman inipun menjadi pelajaran yang sangat berarti di keluarga dan teman-temannya.

Kamis, 28 November 2013

Ingatlah Kejelekannya agar Kau Melupakannya

Kala ku terdiam, meratapi semua kekesalan dan kesedihan ku, Kau datang. Senyum dan tawa yang Kau bawa menyiratkan tada tanya di hati ku. Begitu mudahkah Kau melupakan apa yang telah terjadi kemarin? Rasanya hanya diriku yang meratapi rasa ini. Apakah kau tak merasa sedih? Kemarin, kisah kita baru saja berakhir. Apa memang hanya aku yang merasakan kesedihan itu, apakah benar-benar hanya aku? Begitu bodohkah aku, sehingga aku tak menyadari bahwa rasa yang kau berikan hanya semu. Rasa yang kau berikan hanyalah imajinasiku semata. Tak taukah kau? Hatiku lebih sakit, ketika ku melihat kau telah bersama orang lain. Tunggu dulu, bukankah perempuan itu yang pernah kau katakan sebagai saudaramu ketika aku datang ke rumahmu dengan tiba-tiba. Akupun teringat, saat aku datang kau terlihat kaget. Kau dengan cepat mengatakan perempuan itu adalah saudaramu. Aku langsung mempercayaimu. Tak sedikitpun aku menaruh curiga padamu. Begitu bodohkah aku, hingga tak menyadari kebohonganmu. Lalu, aku ingat pula ketika kau tiba-tiba meninggalkan aku. Kau berkata saudaramu yang kemarin sedang mengalami kesulitan. Aku langsung memberimu ijin. Tanpa berpikir bahwa perempuan itu bukanlah saudaramu. Begitu bodohkah aku, sehingga ku langsung memberimu ijin tanpa berpikir kau telah membodohiku. Ketika ku sadari, kesenangan yang kau berikan tak sebanyak kesedihan dan luka yang kau torehkan. Begitu Bodohkah aku, sehingga aku tak menyadarinya. Kini ku sadar, Kau hanyalah debu yang mengotori pikiranku. Aku tersadar dan berkata pada diriku sendiri, mengapa tak dari dulu saja Aku membersihkan debu ini dari hatiku? Aku hanya dapat tersenyum mengingat itu semua. Jika Kau berfikir untuk kembali padaku, jangan harap ku akan menerimamu.

Sabtu, 07 September 2013

Sebuah Awal Perubahan

Adakalanya kita akan berpikir, apa sebenarnya keuntungan dari sebuah perubahan. Perubahan adakalanya membuat kita akan terluka. Tetapi dibalik luka itu ada sebuah cahaya yang mengantarkan kita menuju sebuah keuntungan ataupun kesenangan. Adakalanya perubahan itu membuat orang lain menjauh kita dan membuat kita was-was. Namun, jika kita manyakini perubahan yang terjadi pada diri kita untuk sebuah kebaikan maka tak akan ada rasa was-was atau pun membuat orang lain menjauh. Adakalanya seseorang meminta kita berubah untuk dirinya, tetapi pada dasarnya perubahan itu bukanlah sebuah paksaan melainkan sebuah keinginan yang berasal dari dalam diri kita sendiri. Sehingga tak akan ada masalah jika seseorang meminta kita untuk berubah walaupun seseorang itu beralasan untuk sebuah kebaikan dan kita menolaknya. Inti dari semuanya adalah perubahan itu kita inginkan sendiri ketika kita sadar akan perilaku kita yang tidak baik dan perubahan itu bukanlah hal yang instan dan mudah tak seperti membalikkan telapak tangan.

Senin, 20 Februari 2012

PENYESALAN

"Raisa!" teriak seseorang dari belakangku.
"Hai! Kenapa Sya?" tanyaku kepada temanku, namanya Rasya.
"Besok kita jadi kan jalan bareng sama Raka?" tanya pada ku.
"Jadi dong, kita kan udah ngerencanain dari seminggu yang lalu," jawab ku.
"Ok, deh. Nanti aku bilang ke Raka kalok kita jadi pergi bertiga," ucapnya.
"Ok. Sya, aku masuk duluan ya. Gurunya udah dateng tuh," ucap ku mengakhiri pertemuan kami berdua.
"Ok, guru ku juga udah dateng tuh. Dadah Raisa."
Kami berdua pun berpisah. Aku, Rasya, dan Raka sudah memiliki rencana sejak seminggu yang lalu. Kami bertiga akan mengunjungi sebuah cafe baru. Karena letaknya dekat dengan rumah teman kami, Keikei, kami berencana untuk mengunjungi rumah Keikei terlebih dulu. Keikei adalah teman ketika SMP dulu.

Keesokan hari nya, aku dan Rasya pergi terlebih dahulu. Seperti rencana awal kami, kami berdua mengunjungi rumah Keikei terlebih dulu. Sebelumnya kami sudah menghubungi Keikei. Sembari menunggu Raka, kami bertiga pun mengobrol kan banyak hal.
Awalnya aku, Rasya, dan Raka akan pergi jam 10.00. Hingga lewat jam sepuluh Raka tak muncul juga. Kami mulai was-was. Keikei yang melihat perubahan wajah kami pun bertanya.
"Kalian kenapa? Kok keliatan khawatir gitu?" tanyanya pada kami.
"Gini Kei, kita khawatir kok Raka gak dateng-dateng," jawab ku.
"Emang kalian bertiga janjian jam berapa?" tanyanya lagi.
"Jam sepuluh Kei. Ini udah hampir jam sebelas," giliran Rasya yang menjawab.
"Kalian udah coba nelpon atau sms Raka?" tanyanya lagi.
"Oh, iya," jawab kami berdua berbarengan.
Aku pun segera menelpon Raka. Sedangkan Rasya mengirim BBM melalui Blackberry nya. Tak ada respon dari Raka. Kami pun mulai khawatir lagi. Aku segera memutuskan sambungan dan menelpon nya lagi. Hingga deringan ke sepuluh tak ada jawaban dari Raka. Aku pun tetap menghubunginya, mungkin hampir lima kali aku sudah menghubunginya masih saja tak ada jawaban atau balasan darinya. Hingga akhirnya panggilan ke enamku pun dijawab.
"Hai, Sa! Sorry hp gak ditangan," jawabnya.
"Lo dimana Ka?" tanya ku.
"Lagi di rumah. Emang kenapa Sa?" tanyanya balik.
"Gila lo, gue sama Rasya udah nungguin lo di rumah Keikei nih," jawab ku mulai sewot.
"Oh, iya. Sorry Sa, gue lupa," ucapnya tak bersalah.
"Buruan ke sini, keburu gue sama Rasya bed mood nih," ucap ku sewot.
"Iya, sabar dong gue belum ngapa"in nih," ucapnya.
"Yaudah, buaruan. Dah."
Aku baru menyadari, sedari tadi Rasya dan Keikei melihat ku. Mereka berdua seperti terkejut melihat ku yang sedang marah. Sedetik kemudian mereka baru menyadari bahwa aku sedang sebal dan kesal. Kemudian Keikei pun segera masuk kedalam rumah dan kembali lagi dengan membawa minuman dingin di kedua tanganyya.
Kami berdua merasa tidak enak. Keikei pun seperti membaca pikiran kami berdua.
"Udah, santai aja. Kalian nunggu Raka lama-lama di sini juga gak papa kok. Lagian di rumah gue lagi sepi," ucap Keikei menenangkan kami.
"Sorry ya Kei, kita berdua jadi ngerepotin lo," ucap Rasya tak enak.
"Iya nih, Kei. Gue jadi gak enak deh, udah hampir dua jam an kita di rumah lo," ucap ku tak enak.
"Kan udah gue bilang tadi, santai aja. Lagian gue juga sepi nih sendirian di rumah, kan enak kalok ada kalian berdua jadi rame," ucapnya menenangkan kami berdua.
"Thank's ya Kei," ucap ku.
"Sama-sama."
Kami bertiga pun mengobrol lagi. Tak tau apa saja yang sudah kami bahas bertiga. Hingga kami menyadari bahwa hari mulai siang dan mendekati waktu shalat Duhur. Aku dan Rasya pun mulai kesal dan sebal dengan Raka. Aku pun menyruh Rasya menghubungi Raka. Ia pun segera melakukannya. Beberapa detik kemudian sambungan pun terhubung.
"Lo udah dimana Ka?" tanya Rasya to the point.
"Gue masih di rumah nih," jawabnya santai.
"Lo gimana sih?" tanya Rasya lagi.
Aku mulai membaca gelagat tak baik dari Rasya. Sepertinya Raka mulia meremehkan rencana kami. Aku langsung merebut BB milik Rasya.
"Kalian jemput gue aja dirumah," pintanya.
"Enak banget ngomongnya," ucapku sewot.
"Eh, lo Sa," ucapnya gelagapan.
"Mau lo giman? Kita jemput lo ke rumah? Heh, enak banget lo jadi orang," ucapku marah.
"Gue lagi males bawa mobil sendiri nih Sa," ucapnya beralasan.
"Gila lo jadi orang. Lo gak mikir apa, gue sama Rasya udah nunggu lo tiga jam di rumah Keikei dan lo enak banget minta kita jemput lo? Lo gak punya otak ya," ucapku tambah marah.
"Gue bilang gue lagi males Sa," ucapnya lagi.
"Kalok lo males ngomong dari tadi, gak usah alesan segala males bawa mobil," ucapku.
"Gak usah ngamuk-ngamuk juga kali Sa," ucapnya.
"Gimana gue gak ngamuk sama lo Ka! Lo jadi orang gak pernah ngehargain usaha seseorang tau gak, lo gak ngehargain gue sama Rasya yang udah nungguin lo, bahkan sampe tiga jam Ka. Lo gak mersa bersalah apa? HAH?" ucapku dengan nada tinggi.
"Terserah lo deh Sa," ucapnya tak peduli.
"DASAR MANUSIA GAK PUNYA HATI LO!" teriak ku sembari mematikan sambungan.
Aku pun mulai tak bisa menahan diri, tak kusangka air mata keluar dari pelupuk mata ku. Rasya yang melihat itu segera memelukku. Sedangkan Keikei mengangsurkan tissue ke tangan ku. Aku merasa terpukul dengan sikap Raka barusan. Ia seperti tak peduli dengan ku dan Rasya. Ia tak menghargai rencana yang telah aku buat bersama Rasya. Tanpa aku sadari aku mulai sesenggukan.
"Udah Sa, Raka gak usah dipikirin," ucapnya.
"Gimana aku gak kesel Sya, dia nyebelin banget enak banget gagalin rencana yang udah kita buat seminggu yang lalu," ucap ku terbata.
"Udahlah gak papa, lain kali aja," ucapnya.
"Udah kalian main aja di sini sampe sore," ucap Keikei menenangkan.
"Makasih banget ya Kei," ucap ku dan Rasya berbarengan.
"Yuk, masuk aja. Gak enak dari tadi di luar," ucapnya lagi.
Kami bertiga pun segera masuk ke dalam rumah. Tak kusangka persahabatan yang aku dan Rasya anggap serius ternyata hanya dianggap remeh oleh Raka. 
Semenjak kejadian itu, aku dan Rasya hanya menganggap Raka teman biasa tak lebih seperti sahabat. Kami tak sedekat dulu. Kami akan memaafkannya jika ia menyadari dan mengakui kesalahannya. 
THE END

Minggu, 24 Juli 2011

Ayah by Rinto Harahap

Dimana…akan kucari
Aku menangis seorang diri
Hatiku….s`lalu ingin bertemu
Untukmu…aku bernyanyi
Lihatlah…hari berganti
Namun tiada seindah dulu
Datanglah..aku ingin bertemu
Untukmu…aku bernyanyi
Untuk ayah tercinta, daku ingin bernyanyi
Dengan air mata di pipiku…
Ayah, dengarkanlah aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi…

Sabtu, 23 Juli 2011

Bruno Mars - The Lazy Song [Official Video]

Andro Oh Andro

"Ocha! Cepetan dong, nanti keburu telat nih."
"Iya, bentar! Capek nih."
"Makanya kurusin tuh badan, biar ringan. Hahhaha."
"Haha gak lucu. Ayo cepetan."
"Yah, malah duluan. Udah gue tungguin, malah gue yang di tinggal."
"Salah sendiri kebanyakan ngomong sih. Dadah."
"Sialan lo, tunggu gue Cha."
Hah, akhirnya nyampe juga di kelas, untung bel masuk belum bunyi. Perkenalkan nama ku Ananda Rosalina, aku biasa dipanggil dengan nama Ocha. Aku mempunyai satu sahabat laki-laki namanya Ryan yang barusan aku tinggal, salah sendiri ngeledekin aku. Memang aku memiliki badan yang cukup berisi, tapi aku tak pernah merasa terganggu. Aku hanya merasa terganggu jika Ryan yang mengatakannya walau pun dia hanya menggoda ku, tapi aku merasa sakit hati karena dia tidak pernah membela ku. Kami sudah bersahabat sejak kecil, karena orangtua kami juga bersahabat.Biasanya kalok di novel-novel ada kata-kata sahabat jagi cinta, tapi di kamus ku tak ada kata sahabat jadi cinta, eya ahhahhhaah.
Ryan juga memiliki seorang sahabat laki-laki, namanya Andro. Andro lebih baik dari Ryan, karena dia selalu membela ku ketika Ryan mengoda ku. Aku telah mengenal Andro cukup lama seperti mengenal Ryan, karena  kami satu sekolah ketika SMP. Ryan selalu menggoda ku ketika Andro bersamanya, ia berusaha membuat ku marah di depan Andro tapi usahanya tak pernah berhasil, karena Andro selalu membela ku. Seperti siang ini, ketika kami bertiga sedang istirahat di kantin.
"Geser dong Cha, sempit nih."
"Ih, apaan sih? Di situkan masih luas? Ngapain sih nyesel" segala," ocehku.
"Ogah, gue mau nya disini juga."
"Udah lah Yan, di sebelah gue aja. Toh disini masih luas," bela Andro.
"Alah, lo demen banget sih bela si Ocha. Jangan" lo suka ya sama Ocha?" ucap Ryan dengan tatapan curiga.
"Emang. Lagian kalok gue suka sama Ocha kenapa? Emang ada masalah Cha kalok gue suka ama lo?" tanya Andro kepada ku.
"Hah? Ya...ya gak papa sih," jawab ku malu.
"Cie, Ocha pipi nya langsung merah nih," goda Ryan.
"Apa sih, Yan? Udah ah, aku mau balik ke kelas duluan," elak ku.
Belum ada jarak semeter dari kantin, Andro manggil aku. Mampus, mau ngapain lagi dia? Kaget yang tadi aja belum selesai, mau ngasih kejutan apalagi sih.
"Eh, Cha! Bentar," Andro memanggilku.
"Kenapa Ndro?" tanya ku padanya.
"Lo mau pulang sama gue gak?" tanya Andro tanpa basa-basi.
"Hah? Pulang sama kamu?" tanyaku memastikan.
"Iya, pulang sama gue. Lo mau gak?"
"Mau-mau aja sih, asal gak ngerepotin kamu aja,"
"Tenag aja. Ok gue tunggu di parkiran belakang ya," ucapnya sambil berlari mendahului ku.
Hua, mimpi apa aku semalam. Ya Allah, terimakasih atas berkah yang kau berikan. Ternyata masih ada orang yang suka sama aku walaupun badan ku berisi, Alhamdulillah.
***
Sesuai perjanjian ku dengan Andro, aku segera menuju parkiran belakang seusai bel pulang berbunyi. Di sana aku melihat Andro sedang duduk diatas motor kerennya dengan mengenakan jaket kulit yang sering dikenakan tukang-tukang ojek. Aku juga sedang melihat dia merokok, sejak kapan ia mulai merokok. Setau ku ia tak pernah suka dengan rokok. Udah deh, ngapain aku ngurusin dia? Toh dia bukan siapa-sipa ku.
Segera saja aku menghampirinya. Ketika aku sampai di hadapannya, ia segera membuang putung rokok yang tadi ia hisap. Andro tau kalok aku gak suka sama cowok yang ngerokok. Dia mulai berbicara dengan menyapa ku terlebih dahulu.
"Eh, Ocha. udah lama?"
"Barusan aja kok, Ndro. Aku boleh tanya ke kamu?"
"Boleh aja, emang kamu mau tanya apa Cha," jawab nya.
"Sekarang kamu ngerokok ya?" tanya ku tanpa basa-basi.
"Hah? Iya, Cha. Ada masalah?"
"Gak sih, cuman mau tanya aja. Aku kira kamu gak suka ngerokok," jawab ku dengan nada sedikit kecewa.
"Gue lagi ada masalah Cha,"
"Masalah? Masalah apa? Kamu boleh kok cerita ke aku, aku siap dengerin,"
"Nggak usah Cha, lagian gak penting. Yok Cha, gue anter pulang. Keburu sore nanti,"
"Oh, ayok."
Andro segera mengubah posisi duduknya dan menstater motor miliknya. Ia menyerahkan salah satu helemnya, aku segera naik ke atas motor. Andro segera tancap gas mengatarkan ku, secara reflek pula aku langsung memeluknya. Hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai di rumah, tapi dengan kecepatan Andro yang diatas 80 km/jam sepertinya tak perlu waktu 30 menit untuk sampai di rumah. Mungkin kami hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai di rumah.
Andro punya masalah apa ya? Apa masalahnya berat banget sampe-sampe dia jadi perokok kayak sekarang. Seandainya kamu cerita sama aku Ndro, aku bakal bantu kamu semampu ku. Kenapa tiba-tiba aku jadi gak jelas gini sih, ada perasaan kecewa sama sedih yang tiba-tiba muncul gitu aja. Apa mungki aku kecewa sama sedih karena Andro ngerokok? Tapi, ngapain aku harus kecewa sama sedih kalau memang itu yang dia suka. Ah....., kenapa jadi kayak gini sih. Udah ah, tutup buku aja deh aku ngurusin urusan orang. Gak kerasa ternyata udah nyampe depan rumah. Aku segera turun dari motor dan melepas helem.
"Makasih ya, udah mau nganterin pulang."
"Sama-sama, Cha. Nyantai aja," ucapnya sambil menggelangkan helem di tangannya.
"Oke deh. Mau mampir dulu?" tawar ku padanya.
"Gak usah, Cha. Gue mau langsung cabut aja."
"Oh, yaudah. Ati-ati di jalan ya."
"Iya, duluan ya Cha," ucapnya sambil menstater motor.
"Iya. Andro nanti malem aku boleh telpon kamu," tanyaku ragu.
"Boleh-boleh aja. Ok, dadah Ocha," ucapnya sambil berlalu dengan motornya.
***
Huh, capek banget ngelewati hari ini. Kayaknya hari ini penuh dengan pikiran yang cukup menguras tenaga. Aduh, aku ngomong apaan sih? Gak jelas banget deh. Andro kau membuat ku gila, arg...pusing banget nih. Hoam.....
saat bahagiaku duduk berdua denganmuhanyalah bersamamu hmmm derrrrt...mungkin aku terlanjur tak sanggup jauh dari dirimu derrrrt...ku ingin engkau selalu derrrrt...
Aduh, siapa sih yang malem-malem gini telpon? Kurang kerjaan banget, hoam... Mana uda ganggu tidur orang, gak tau apa kalok bsok harus masuk pagi banget. Haduh, mana sih hp ku, ah ini dia. Siapa sih? nomor tak dikenal? Haduh siapa pula ini. Klik OK.
"Hallo, hoam..."
"Hai, Cha. Lagi apa nih?"
"Sorry, siapa ya?"
"Andro, Cha. Lo habis bangun tidur ya?"
"Oh, Andro. Iya nih, habis tadi capek banget. Tumben nih telpon."
"Hahahhah, habis dari tadi gue tunggu" lo gak telpon" sih. Jadi gue telpon duluan aja," jawabnya jujur.
"Oh, iya. Sorry aku lupa, habis tadi aku langsung tidur. Maaf banget ya," what? dia nunggu telpon dari aku, gak salah denger nih? Oh God.
"Iya, nyantai aja. Ya udah deh, lo terusin tidur lo aja."
"Ok, thank's ya. Kamu udah mau ngertiin."
"Gak papa kok. Oh iya, besok gue boleh jemput lo gak?"
"Hah? Jemput?"
"Iya, boleh?"
"Bo...boleh kok."
"Ok, lo gue jemput jam setengah tujuh. Dadah Ocha. Klik."
"Ndro, hallo? yah udah dimatiin."
Hua... mimpi apa aku barusan. Oh, Andro kau membut ku bingung, gila, setres, dan hal'' aneh lainnya. Hati ku berbunga-bunga. Semoga bsok adalah hari terindah, Amin Ya Allah.
***
"Ocha, bangun! Kamu mau berangkat jam berapa?" teriak mama membangun kan ku.
"Bentar lagi ah ma. Lagian masih pagi buta gini."
"Pagi buta apanya? Ini udah jam enam, Ocha. Ayo bangun, nanti kamu telat," omel mama.
"Hah, jam enam? Aduh, aku udah janjian mau dijemput jam setengah tujuh nih ma."
"Yaudah, buruan mandi sana! Mama siapin bekal buat kamu."
"Maksih, mama," ucap ku sambil mencium pipi mama.
Aduh, kok bisa telat bangun gini sih. Padahal alarem udah di nyalain, mulai dari hp sampe jam weker, masih aja bangun kesiangan. Kalok Andro udah dateng gimana nih? Bisa malu aku bangun kesiangan kayak gini. Ayo, Ocha! Cepetan mandinya, mandi bebek aja susah amat. Seger! Mana pula nih tas ku, untung tadi malem sempet nyiapin buku. Akhirnya beres semua, Alhamdulillah.
uw uw asyiknya bila bersepedauw uw berkeliling kota jakarta derrrt...uw uw ku kayuh dengan suka citauw uw ku rasakan indah dunia derrrt...bila ku pergi bersepeda bersama riang gembira derrrt...senangnya hatiku (saat bersepeda) derrrt...
Haduh, hp ku mana nih? Kayaknya tadi malem di sini deh, aduh mana sih. Pagi" kok udah ribet kayak gini sih, ah ini dia.
Andro (+6281228095859)
Cha, gue udah di depan rumah lo.
Buruan keluar ya, 
Aduh gawat nih, mana lagi tas ku. Langsung ke bawah aja deh, pamit sama mama.
"Ma, aku berangkat dulu ya?"
"Iya, Cha. Jangan lupa di bawa bekalnya, biar gak laper di sekolah."
"Ok, Ma. Makasih ya Ma. Aku berangkat dulu, Assalamualaikum Ma," ucapku sambil mencium tangan Mama.
"Ati-ati ya, Cha. Jangan lupa berdoa."
"Siap, Ma."
Aku segera keluar, ku lihat Andro sedang menunggu ku. Tambah cakep aja nih si Andro. Hahahaha... lebay banget sih aku baru kemaren juga ketemunya. Konyol banget sih aku, baru ketemu Andro aja udah seneng banget kayak ketemu Afgan aja hahahahhaha.
"Hai, Andro. Sorry ya lama."
"Gak papa kok, Cha. Nyantai aja."
"Makasih, ya. Berangkat yuk, nanti telat lagi."
"Ayok, nih helem lo."
"Thank's," segera ku pakai helem dan naik ke atas motor.
Andro langsung tancap gas, tak sampai 15 menit kami sudah sampai di sekolah. Gila dari kemaren si Andro nyetir motor kayak pembalap aja. Di parkiran aku melihat Ryan bersama dengan pacar tercintanya Rara, sapertinya mereka menunggu kami. Tumben banget nih Ryan nungguin kedatangan ku hahahahhaha pd banget nih aku. Aku segeera turun dari motor dan melepas helem, aku langsung meberikan helem itu ke Andro.
" Cie, Andro sama Ocha. Berangkat bareng nih ye," ucap Rara menggoda kami.
"Iya, nih. Jangan-jangan udah jadian," tambah Ryan.
"Kalian ribut banget sih, kita aja biasa aja. Ya gak, Cha?" ucap Andro membela diri.
"Iya. Eh, Ra naik yok," ajak ku ke Rara.
"Ah, Ocha gak asik. Masak gak nungguin Andro dulu," ucap Rara menggoda ku.
"Udah gak usah, gue nanti sama Ryan aja. Lo duluan aja Ra sama Ocha," bela Andro lagi.
"Ya udah deh. Yok Cha, eh Yan aku duluan ya," ucap Rara pamit ke Ryan.
"Iya. Cha, minggu depan jadi kan?" tanya Ryan pada ku.
"Jadi, Yan. Nanti mama juga mau ikut, duluan ya Yan. Dadah Andro," jawab ku.
Aku dan Rara segera menuju ke kelas, kami sekelas sejak kelas 10 atau kelas 1 SMA. Saat menuju kelas, tiba-tiba Rara bertanya pada ku dengan wajah menyelidik. Sepertinya dia cemburu kepada ku.
"Kalian ada acara apa sih?"
"Cuma kumpul-kumpul keluarga biasa kok Ra."
"Masak sih? Tapi, biasanya Ryan gak seantusias ini."
"Hah, kalok itu aku gak tau Ra, kamu tanya ke Ryan langsung aja."
"Sebulan yang lalu juga kayak gini, setiap aku ajak pergi dia, dia gak pernah bisa. Dia bilang ke rumah kamu. Emang di rumah kamu ada acara apa sih Cha sebulan lalu."
"Gak ada acara apa" ko Ra. Dia cuma nganter mama nya aja."
"Kadang-kadang aku suka sebel sama kamu deh, Cha. Ryan selalu mentingin kamu dari pada aku, padahal aku kan pacarnya, sedangkan kamu cuma sahabatnya."
"Maafin aku Ra. Kalok aku ganggu hubungan kamu sama Ryan. Aku udah nganggep dia sebagai abang ku sendiri, gak lebih."
"Oh, gitu ya. Ya bagus deh, jadi aku gak perlu khawatir kamu ngerebut Ryan dari aku," ucapnya sinis sembari menjauh dari ku.
Deg, benar-benar menusuk. Aku tak sejahat pemikiran mu Ra. Seandainya kamu tahu apa yang terjadi padaku sebulan lalu, tapi aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk tak memberitahukan perihal ini kepada orang lain. Dengan hati yang telah hancur, aku segera beranjak dari tempat ku berdiri menuju ke kelas. Saat itu juga bel berbunyi, semoga masalah tadi tak mengganggu otak ku.
***
Alhamdulillah masalah tadi tak menggagu otak ku sama sekali. Hari ini kulalui dengan tenang walau pun agak tak enak badan, karena perkataan Rara tadi pagi. Semenit sebelum bel pulang berbunyi Andro mengirimi ku sms untuk mengajak ku pulang bersamanya, aku pun menyanggupinya. Aku berharap muka bete ku inisegera menghilang agar Andro tak mencurigai ku. Aku segera menuju ke parkiran belakang.
Saat aku menuju ke parkiran belakang, aku melihat Andro sedang berbincang-bincang dengan Rara. Tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan Rara dan Andro sekilas. Sepertinya mereka sedang membicarakan ku dan Ryan. Rara menyadari kehadiran ku, ia segera pergi. Tak kusangka sebelum ia pergi ia mencium Andro dengan mesra. Apa maksud dari semua ini? Rara melambaikan tangan.
"Dadah Andro," ucapnya sambil melirik ku. 
Andro tak memperdulikannya, ia malah menghampiri ku dan meraih tangan ku. Ia menarik ku untuk mendekat ke motornya. Ia segera meraih helem miliknya untuk ia kenakan dan meraih helem satu lagi untuk ku kenakan. Ia tak mengatakan sepatah kata pun, ia langsung menaiki motornya begitu pun aku.
Tak sepatah kata pun keluar dari kami berdua hingga sampai di depan rumah ku. Aku lebih memilih diam, aku tak akan bertanya padanya apa yang telah ia bicarakan dengan Rara. Aku tak ingin menjadi orang yang senang ikut campur urusan orang lain. Aku bergegas mengembalikan helemnya.
"Thank's, Ndro. Aku duluan."
"Cha, tunggu bentar," cegahnya dengan meraih tangan ku.
Aku tak mengatakan apa pun, aku hanya menunggunya hingga ia membuka mulut. Ia hanya menggenggam dan menatap tangan ku, aku tak tau apa yang sedang ia pikirkan. Tanpa kusadari ia mendekatkan tangan ku ke bibirnya, dengan sekejap ia mengecup lembut punggung tangan ku. Sekejap aku menarik tangan ku dan berlari ke dalam rumah. Ia pun berteriak.
"Aku sayang kamu Cha!"
Aku langsung masuk ke dalam kamar, aku melihatnya dari jendela kamar ku. Aku melihatnya masih termenung, tak beberapa lama ia menyalakan motornya dan berlalu pergi. Apa yang telah terjadi ya Allah? Mengapa menjadi seperti ini? Aku pun menangis dan jatuh terduduk. Aku juga menyayanginya Ya Allah. Apa yang harus ku perbuat. Tanpa ku sadari aku pun terlelap. Aku berharap semua ini hanyalah mimpi. Amin.
***

Seminggu setelah kejadian itu aku tak pernah bertemu dengan Andro. Aku juga tak pernah mendengar namanya disebut oleh teman-temannya. Aku semakin bingun dan khawatir, sebenarnya dimana Andro saat ini? Andro membuat semua ini menjadi tidak jelas. Ia tega menggantungkan perasaan ku dan membuat perasaan ku tak menentu.
Sore ini, setelah pulang sekolah aku akan bertemu dengan Ryan. Mungkin saja ia tahu kabar dimana Andro. Setelah bel pulang berbunyi, aku segera menuju ke parkiran belakang untuk menemui Ryan. Saat akan menuju parkiran, aku melihat Andro berjalan menuju arah perpustakaan. Apakah benar itu Andro? Tanpa banyak berpikir lagi, aku segera mengikutinya. Akhirnya, setelah seminggu tak bertemu, aku bisa melihat Andro lagi. Saat sedang sibuk mencari Andro, aku tak melihat sebuah meja ada di depan ku. Dengkul ku menatap ujung meja yang runcing, reflek aku berteriak.
            “Aww,” teriak ku.
Saat itu, kondisi perpustakaan sedang sepi. Tak ada seorang pun disana. Aku segera mencari kursi dan segera duduk. Saat sedang sibuk mengurusi luka ku, seseorang menghampiri ku dengan membawa kotak obat. Dari mana ia tahu aku sedang terluka. Orang itu segera membuka mulut.
            “Sakit ya, Cha?” tanyanya masih dalam posisi berdiri.
Sepertinya aku kenal suara ini, aku segera mengangkat kepala.
            “Andro!” teriak ku. Aku langsung memeluknya.
            “Maaf ya, Cha?” ucapnya meminta maaf, sembari membalas pelukan ku.
Aku tak membalas ucapan maafnya. Saat ini aku hanya ingin memeluknya. Aku rindu wangi bajunya, hangat tubuhnya, dan kelembutan dalam dirinya. Tanpa ku sadari, setetes demi setetes air keluar dari mata ku. Ia menyadari itu dan segera mengambil kursi yang ada di dekatnya. Lalu ia duduk menatap wajah ku.
            “Maafin gue, Cha,” ucapnya lagi.
            “Maaf buat apa, Ndro?” tanyanku sembari merengku jari-jarinya.
            “Maaf kalok seminggu ini gue gak ada kabar dan ngilang gitu aja,” ucapnya tertunduk.
            “Aku maafin kamu kok, Ndro,” ucapku menyentuh pipinya dan mengangkat wajahnya untuk menatap ku lagi.
Ia segera memelukku. Sakit yang kurasakan tadi berangsur hilang, tapi tanpa sengaja Andro menyentuhnya. Aku langsung berteriak.
            “Aww.”
            “Maaf, Cha. Gak sengaja,” ia segera melihat luka ku.
            “Iya, gak papa,” ucapku menahan sakit.
Ia segera membuka kotak obat yang di bawanya tadi. Secara perlahan-lahan ia membersihkan luka ku menggunakan cairan antiseptic, kemudian ia menaruhkan obat merah dan menutupnya dengan kapas. Sedikit perih, tapi karena yang mengobati Andro, perihnya menjadi tak terasa. Ia pun selesai mengobati ku.
            “Cha, lo mau gue ajak jalan-jalan gak?” tanyanya.
            “Mau aja sih, tapi dengkulku kalok dibuat jalan sakit,” jawabku.
            “Yaudah, gak papa. Lo gue gendong aja,” tawarnya.
            “Tapi, nanti kamu keberatan. Aku kan gendut, Ndro.”
            “Udah gak papa, nyantai aja. Yok.”
Aku segera naik ke atas punggungnya. Ya Allah bantulah Andro. Baru kali ini aku digendong laki-laki selain ayah. Ya Allah berikan ayahku tempat terindah disisimu.
            “Cha, gue boleh Tanya?” tanyanya.
            “Tanya apa, Ndro?”
            “Lo ada janji apa sama Ryan?” tanyanya.
            “Cuma mau jenguk rumah papa aja kok Ndro,” jawab ku.
            “Loh, emang rumah bokap lo beda sama lo?” tanyanya lagi.
            “Iya, Ndro. Untuk selamanya.”
            “Emang rumah bokap lo dimana, Cha?”
            “Di TPU deket rumah,”
            “Hah, maksut lo Bokap lo udah gak ada.”
            “Iya.”
Ia berhenti berjalan. Ia memalingkan wajahnya untuk menatap ku. Ia menatap ke dengan tatapan meminta maafnya yang membuatnya terlihat lucu. Aku langsung merangkulnya lebih erat dan menaruhkan kepala ku di pundaknya. Ia berjalan lagi. Ayah aku sudah mendapatkan pengganti ayah yang bisa menjagaku dan menyayangiku seperti ayah, tapi kasih saying ayah akan selalu ku kenang.
Tak seperti biasanya, kali ini Andro membawa mobilnya. Tumben banget Andro mau membawa mobil pribadinya. Kau membuat ku penasaran, Ndro. Ia segera mengeluarkan kunci dari saku bajunya. Ia membukakan pintu untukku, aku segera turun dari gendongannya. Setelah aku naik ia pun bergegas naik juga. Ia mulai menstater mobilnya dan kami segera mejauh dari sekolah. Tak beberapa lama ia mendapatkan pesan di hpnya. Aku melihat ia tersenyum-senyum sendiri, aku pun penasaran.
            “SMS dari siapa, Ndro?” tanyaku.
            “Hah, oh ini. SMS dari Ryan, Cha,” jawabnya.
            “Kita ke makam bokap lo aja gimana, Cha?” tawarnya.
            “Hah, ke makam ayah ku? Kamu yakin? Aku kok jadi ngerepotin kamu sih,” tanyaku kaget.
            “Iya, gue yakin. Gue mau minta ijin ke Bokap lo,” jawabnya membuat ku tambah penasaran.
            “Minta ijin? Minta ijin buat apa, Ndro?” tanyaku mulai bingung.
            “Minta ijin buat ngejagain lo, sayang sama lo, sama macarin lo,” jawabnya santai.
            “Hah, kamu ngomong apa sih?” tanyaku bingun.
            “Lo masih inget kata-kata yang gue ucapin seminggu yang lalu?” tanyanya.
            “Hah, kamu serius. Ndro please jangan buat aku bingung,” ucapku memohon.
        “Gue serius, Cha. Gue sayang sama lo, gue jujur dari perasaan gue yang paling dalem,” ucapnya meyakin kan ku.
Aku hanya terdiam, masih mencerna kata-kata yang dilontarkan Andro. Dia serius sayang sama aku. Aduh, aku kok jadi gak karuan gini sih. Dia mau minta ijin sama ayah buat macarin aku? Kenapa dia gak minta ijin aja sekalian sama kakek atau nenek? Hah tau ah, aku jadi pusing. Selama perjalanan menuju makam ayah, aku hanya terdiam memandangi hirup pikuk kota dari jendela mobil.
Tanpa aku sadari aku tetidur. Aku bermimpi bertemu ayah, ditempat yang sering kami kunjungi sekeluarga. Di sana ada pula Andro. Ia meminta ijin ayah untuk memacari ku. Ayah pun merestui ku untuk berpacaran dengan Andro. Setelah itu Andro mencium pipi ku, ciuman itu terasa nyata. Ketika aku membuka mata, aku tak melihat lagi interior mobil Andro tetapi aku melihat interior kamar ku sendiri. Loh, kok udah sampe kamar sih? Tapi aku masih pakek seragam. Aku segera bangun dan mencari mama. Mungkin mama tau apa yang terjadi.
Aku mencari mama dikamarnya, dikamarnya aku melihat mama sedang menghitung pengeluaran keluarga kami selama sebulan. Mama melihat ku masuk ke kamarnya, beliau tersenyum kepada ku. Beliau menyuruh ku untuk duduk disebelahnya. Aku menurut, lalu beliau membuka pembicaraan terlebih dahulu.
            “Tadi kamu mau ke makam ayah ya?” tanyanya.
        “Iya, Ma. Aku mau ke sana sama temen aku, tapi kok tiba-tiba aku udah sampe rumah sih, Ma?” tanyaku bingung.
         “Iya, mama tau. Temen kamu tadi juga bilang, kalian sebenernya mau ke makam ayah. Tapi, karena kamu tidurnya pules banget dia gak berani bangunin kamu. Ya udah deh dia nganterin kamu pulang,” jawab mama panjang lebar.
            “Tapi kok aku bisa langsung ke kamar, siapa yang gendong aku sampe kamar?” tanyaku bingung.
           “Ya, temen kamu lah. Dia yang gendong kamu sampe kamar, trus dia langsung pamit, karena gak mau bikin kamu bangun,” jawab mama lalu sibuk lagi dengan urusannya.
Andro, jangan-jangan waktu aku mimpi dicium dan aku ngerasa dicium beneran dia emang nyium aku lagi? Aduh aku jadi malu sendiri. Aku segera meninggalkan kamar mama. Ketika sampai di kamar, aku melihat sebuah kotak yang sebelumnya tak pernah ku lihat. Aku segera menghampiri kotak itu dan membukanya. Sebuah tiket konser, jaket, dan sepasang sepatu cats. Di dalam jaket terdapat secarik kertas yang berisi sebuah pesan.

            Hai, Cha.
            Gue mau ngajak lo nonton konser besok lusa, gue harap lo mau pakek jaket
sama sepatu cats yang ada di dalem kotak. Gue jemput lo jam 5, jangan buat
gue nunggu ya, Cha.
Love You Ocha
Andro

Kejutan apa lagi ini, haduh. Emang besok lusa hari apa sih? Oh, iya hari sabtu. Jangan-jangan maksut Andro ngajak aku nonton konser itu buat ngedate. Ah, Andro nyebelin. Sukanya maksa, pakek kata-kata jangan buat dia nunggu lagi. Entah lah, aku mau tidur lagi aja.
***
Hari itu pun tiba. Sejujurnya aku tak begitu antusias menonton konser, karena aku tak begitu suka tempat ramai. Aku lebih suka konser akustik. Walau pun aku akan dijemput jam 5, aku telah siap sejak pagi tadi. Ada saja yang membuat tak percaya diri dengan apa yang ku kenakan. Entah itu dari baju, celana, atau bahkan dandanan. Aku jadi berfikir, apakah ini rasanya kencan pertama? Karena aku begitu takut penampilanku tak enak dipandang. Entahlah, tapi pada akhirnya aku menjatuhkan pilihan pada t-shirt dengan warna cream dan celana aladin warna coklat tua. Semoga Andro suka.
            Mungkin Allah tak mengijinkan ku untuk pergi dengan Andro, karena ketika hendak masuk ke kamarmandi aku terpeleset. Reflek aku teriak memanggil Mama, Mama datang dengan tergopoh-gopoh. Beliau langsung membantu ku bangun dan menidurkan ku di kasur. Sepertinya kakiku terkilir. Aku tak bisa berjalan, bagaimana bisa berjalan, berdiri pun tak bisa. Aku segera mengirim sms pada Andro.
            To: Andro (+6281228095859)
            Maaf sebelumnya, kayaknya aku gak bisa pergi Ndro.
            Aku segera mengirimnya ke Andro, tak butuh waktu lama Andro membalasnya.
            From: Andro
            Loh, emang lo kenapa? Gak suka sama konsernya?
            Kayaknya aku harus langsung bicara dengannya, agar tidak salah paham. Aku segera menekan tanda call pada nomor Andro. Cukup lama untuk menunggunya mengangkat telpon ku. Tapi, pada akhirnya ia mengangkatnya.
            “Hallo, Andro?” tanyaku padanya.
            “Iya. Lo kenapa Cha?” tanyanya langsung.
            “Maaf sebelumnya, Ndro. Aku gak bisa nemenin kamu nonton konser,” ucapku basa-basi.
“Iya gak papa, yang mau gue tanyain lo kenapa?” tanyanya lagi.
            “Tadi aku kepleset di kamarmandi, terus kayaknya kakiku terkilir. Alhasil aku gak bisa jalan, berdiri aja susah. Makanya aku minta maaf gak bisa nemenin kamu nonton konser,” jawabku panjang lebar.
“Hah, kok bisa sih? Yaudah gue ke rumah lo sekarang,” ucapnya lansung mematikan hp milik nya.
“Hallo, Ndro? Andro?” panggilku, yah kok dimatiin sih.
            Kok dia malah mau ke sini sih? Ini kan udah jam setengan lima. Rugi dong dia udah beli tiket, konser artis luar lagi. Aduh aku merasa bersalah banget nih. Rumah dia kan jauh banget dari sini. Tapi, tak berapa lama aku mendengar deru motornya. Gila, pasti ini anak ngebut nih. Aku tak begitu suka jika ia ngebut. Awas aja habis ini aku marahin dia, kalok dia kecelakaan gimana? Kan aku jadi gak enak sama keluarganya.
            Pintu kamar ku tidak tertutup, karena Mama takut tidak mendengar suara ku ketika aku memanggil beliau. Memang Mama adalah orang terhebat di dalam hidup ku. Tiba-tiba Andro telah sampai di depan kamar ku, mungkin Mama langsung mempersilahkannya masuk. Aku melihat wajahnya yang pucat pasi. Aku tak menyangka ia akan seperti itu. Ia langsung menghampiriku dan memelukku. Aku terkejut, tak menyangka akan mendapatkan reaksi seperti ini dari dirinya. Lalu, ia menyentuh kedua pipi ku dan mengecup keningku. Huaaaa, tak ku sangka ia akan melakukan ini. Setelah itu ia menatap mata ku, aku menjadi malu dan menundukkan kepala. Tapi, ia menahannya dengan kedua tangannya yang masih menempel di pipiku. Ia pun bersuara.
            “Dasar ceroboh,” ucapnya sinis.
Ih, apa-apaan sih? Tiba-tiba ngomong kayak gini. Siapa juga yang mau keadaan kayak gini? Namanya juga kecelakaan. Aku hanya diam, tak menjawab perkataannya itu. Aku pun memalingkan wajah.  
“Loh, kok marah sih. Jangan marah dong, nanti wajahnya tambah jelek loh,” ucapnya sambil mencubit pipiku.
“Apaan sih?” tepis ku.
“Ih, marah beneran. Yaudah deh, gue pulang aja,” ucapnya sembari berdiri.
Aku segera meraih tangannya.
“Jangan pergi. Iya deh aku minta maaf udah marah-marah,” ucapku meminta maaf.
Ia tersenyum pada ku dan kembali duduk di sampingku. Ia mengusap pipiku. Kemudian ia meraih jemari-jemari ku dan mendekatkan ke dadanya. Lalu ia mulai berbicara lagi. Sepertinya ia akan berbicara sesuatu yang serius.
“Cha, kita udah kenal lumayan lama,” ucapnya basa basi.
“Iya, terus?” tanyaku.
“Gue udah nganggep lo temen deket gue,” ucapnya ragu-ragu.
“Heem,” ucapku menatap matanya.
“Huft, mau gak lo jadi pacar gue?” ucapnya dengan cepat.
“Apa? Aku gak denger kamu ngomong apa,” godaku dengan pura-pura tak dengar.
“Ocha, mau gak lo jadi pacar gue,” ulangnya dengan lantang.
Aku merubah raut wajah ku, aku pun tertunduk. Aku ingin membuatnya penasaran terlebih dahulu. Biar tau rasa dia gimana rasanya dikerjain.
“Duh, gimana ya? Maafin aku Ndro, aku gak bisa,” ucapku terpatah.
“Kenapa lo gak bisa, Cha?” tanyanya mulai ragu.
“Aku gak bisa nolak perasaan yang kamu kasih ke aku,” ucapku akhirnya.
Lalu ia memandangku dengan senang, ia lansung memelukku. Aku langsung berteriak, karena tangannya menyenggol kakiku. Ia pun memohon maaf. Akhirnya setelah sekian panjang perjalanan ku menantinya. Hari ini aku sangat bahagia. Terimakasih Allah. Kau telah memberikan hal terindah dalam hidup ku. Andro oh Andro kaulah pengisi kekosongan dalam hati ku.
THE END