"Raisa!" teriak seseorang dari belakangku."Hai! Kenapa Sya?" tanyaku kepada temanku, namanya Rasya."Besok kita jadi kan jalan bareng sama Raka?" tanya pada ku."Jadi dong, kita kan udah ngerencanain dari seminggu yang lalu," jawab ku."Ok, deh. Nanti aku bilang ke Raka kalok kita jadi pergi bertiga," ucapnya."Ok. Sya, aku masuk duluan ya. Gurunya udah dateng tuh," ucap ku mengakhiri pertemuan kami berdua."Ok, guru ku juga udah dateng tuh. Dadah Raisa."
Kami berdua pun berpisah. Aku, Rasya, dan Raka sudah memiliki rencana sejak seminggu yang lalu. Kami bertiga akan mengunjungi sebuah cafe baru. Karena letaknya dekat dengan rumah teman kami, Keikei, kami berencana untuk mengunjungi rumah Keikei terlebih dulu. Keikei adalah teman ketika SMP dulu.
Keesokan hari nya, aku dan Rasya pergi terlebih dahulu. Seperti rencana awal kami, kami berdua mengunjungi rumah Keikei terlebih dulu. Sebelumnya kami sudah menghubungi Keikei. Sembari menunggu Raka, kami bertiga pun mengobrol kan banyak hal.
Awalnya aku, Rasya, dan Raka akan pergi jam 10.00. Hingga lewat jam sepuluh Raka tak muncul juga. Kami mulai was-was. Keikei yang melihat perubahan wajah kami pun bertanya.
"Kalian kenapa? Kok keliatan khawatir gitu?" tanyanya pada kami.
"Gini Kei, kita khawatir kok Raka gak dateng-dateng," jawab ku.
"Emang kalian bertiga janjian jam berapa?" tanyanya lagi.
"Jam sepuluh Kei. Ini udah hampir jam sebelas," giliran Rasya yang menjawab.
"Kalian udah coba nelpon atau sms Raka?" tanyanya lagi.
"Oh, iya," jawab kami berdua berbarengan.
Aku pun segera menelpon Raka. Sedangkan Rasya mengirim BBM melalui Blackberry nya. Tak ada respon dari Raka. Kami pun mulai khawatir lagi. Aku segera memutuskan sambungan dan menelpon nya lagi. Hingga deringan ke sepuluh tak ada jawaban dari Raka. Aku pun tetap menghubunginya, mungkin hampir lima kali aku sudah menghubunginya masih saja tak ada jawaban atau balasan darinya. Hingga akhirnya panggilan ke enamku pun dijawab.
"Hai, Sa! Sorry hp gak ditangan," jawabnya.
"Lo dimana Ka?" tanya ku.
"Lagi di rumah. Emang kenapa Sa?" tanyanya balik.
"Gila lo, gue sama Rasya udah nungguin lo di rumah Keikei nih," jawab ku mulai sewot.
"Oh, iya. Sorry Sa, gue lupa," ucapnya tak bersalah.
"Buruan ke sini, keburu gue sama Rasya bed mood nih," ucap ku sewot.
"Iya, sabar dong gue belum ngapa"in nih," ucapnya.
"Yaudah, buaruan. Dah."
Aku baru menyadari, sedari tadi Rasya dan Keikei melihat ku. Mereka berdua seperti terkejut melihat ku yang sedang marah. Sedetik kemudian mereka baru menyadari bahwa aku sedang sebal dan kesal. Kemudian Keikei pun segera masuk kedalam rumah dan kembali lagi dengan membawa minuman dingin di kedua tanganyya.
Kami berdua merasa tidak enak. Keikei pun seperti membaca pikiran kami berdua.
"Udah, santai aja. Kalian nunggu Raka lama-lama di sini juga gak papa kok. Lagian di rumah gue lagi sepi," ucap Keikei menenangkan kami.
"Sorry ya Kei, kita berdua jadi ngerepotin lo," ucap Rasya tak enak.
"Iya nih, Kei. Gue jadi gak enak deh, udah hampir dua jam an kita di rumah lo," ucap ku tak enak.
"Kan udah gue bilang tadi, santai aja. Lagian gue juga sepi nih sendirian di rumah, kan enak kalok ada kalian berdua jadi rame," ucapnya menenangkan kami berdua.
"Thank's ya Kei," ucap ku.
"Sama-sama."
Kami bertiga pun mengobrol lagi. Tak tau apa saja yang sudah kami bahas bertiga. Hingga kami menyadari bahwa hari mulai siang dan mendekati waktu shalat Duhur. Aku dan Rasya pun mulai kesal dan sebal dengan Raka. Aku pun menyruh Rasya menghubungi Raka. Ia pun segera melakukannya. Beberapa detik kemudian sambungan pun terhubung.
"Lo udah dimana Ka?" tanya Rasya to the point.
"Gue masih di rumah nih," jawabnya santai.
"Lo gimana sih?" tanya Rasya lagi.
Aku mulai membaca gelagat tak baik dari Rasya. Sepertinya Raka mulia meremehkan rencana kami. Aku langsung merebut BB milik Rasya.
"Kalian jemput gue aja dirumah," pintanya.
"Enak banget ngomongnya," ucapku sewot.
"Eh, lo Sa," ucapnya gelagapan.
"Mau lo giman? Kita jemput lo ke rumah? Heh, enak banget lo jadi orang," ucapku marah.
"Gue lagi males bawa mobil sendiri nih Sa," ucapnya beralasan.
"Gila lo jadi orang. Lo gak mikir apa, gue sama Rasya udah nunggu lo tiga jam di rumah Keikei dan lo enak banget minta kita jemput lo? Lo gak punya otak ya," ucapku tambah marah.
"Gue bilang gue lagi males Sa," ucapnya lagi.
"Kalok lo males ngomong dari tadi, gak usah alesan segala males bawa mobil," ucapku.
"Gak usah ngamuk-ngamuk juga kali Sa," ucapnya.
"Gimana gue gak ngamuk sama lo Ka! Lo jadi orang gak pernah ngehargain usaha seseorang tau gak, lo gak ngehargain gue sama Rasya yang udah nungguin lo, bahkan sampe tiga jam Ka. Lo gak mersa bersalah apa? HAH?" ucapku dengan nada tinggi.
"Terserah lo deh Sa," ucapnya tak peduli.
"DASAR MANUSIA GAK PUNYA HATI LO!" teriak ku sembari mematikan sambungan.
Aku pun mulai tak bisa menahan diri, tak kusangka air mata keluar dari pelupuk mata ku. Rasya yang melihat itu segera memelukku. Sedangkan Keikei mengangsurkan tissue ke tangan ku. Aku merasa terpukul dengan sikap Raka barusan. Ia seperti tak peduli dengan ku dan Rasya. Ia tak menghargai rencana yang telah aku buat bersama Rasya. Tanpa aku sadari aku mulai sesenggukan.
"Udah Sa, Raka gak usah dipikirin," ucapnya.
"Gimana aku gak kesel Sya, dia nyebelin banget enak banget gagalin rencana yang udah kita buat seminggu yang lalu," ucap ku terbata.
"Udahlah gak papa, lain kali aja," ucapnya.
"Udah kalian main aja di sini sampe sore," ucap Keikei menenangkan.
"Makasih banget ya Kei," ucap ku dan Rasya berbarengan.
"Yuk, masuk aja. Gak enak dari tadi di luar," ucapnya lagi.
Kami bertiga pun segera masuk ke dalam rumah. Tak kusangka persahabatan yang aku dan Rasya anggap serius ternyata hanya dianggap remeh oleh Raka.
Semenjak kejadian itu, aku dan Rasya hanya menganggap Raka teman biasa tak lebih seperti sahabat. Kami tak sedekat dulu. Kami akan memaafkannya jika ia menyadari dan mengakui kesalahannya.
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar